Rabu, 17 Juni 2009

Beritahukan Kepada Temanmu Bahwa Ia Mendapat Anak Lelaki

Pada suatu malam seorang lak-laki keluar berkeliling seorang diri sementara orang-orang sedang tidur supaya ia bisa tenteram melihat dan memeriksa keadaan kaumnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka di malam hari. Di suatu dataran tinggi Madinah, ia melihat sebuah gubuk dan terdengar rintihan seorang perempuan. Laki-laki itu segera menghampirinya dan melihat seorang laki-laki sedang duduk di pintu gubuk dan diberitahu olehnya bahwa ia adalah suami wanita yang merintih itu. Tahulah ia perempuan itu menderita sakit karena hampir melahirkan dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena suami dan istri itu berasal dari dusun dan mereka berhenti di situ sebagai orang asing. Laki-laki itu segera pulang ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, "Apakah engkau ingin mendapatkan ganjaran dari Allah?" istrinya bertanya, "Kebaikan?" Laki-laki itu berkata, "Seorang perempuan asing sedang merintih hampir melahirkan dan tidak ada seorang pun yang menolongnya." Istrinya berkata, "Ya, jika engkau kehendaki."

Laki-laki itu berdiri menyiapkan bekal dan alat-alat yang diperlukan seorang ibu yang melahirkan, berupa tepung, samin, dan potongan-potongan kain untuk mebungkus bayi. Laki-laki itu membawa periuk di atas pundaknya dan tepung di sebelah pundaknya yang lain, lalu berkata kepada istrinya, "Ikutilah aku." Keduanya mendatangi gubuk itu dan istri laki-laki itu masuk untuk menolong perempuan itu melahirkan. Sedangkan suaminya duduk di luar gubuk dan memasang tungku, meletakkan periuk itu di atasnya, lalu menyalakan api di bawahnya, memasak makanan bagi itu, sementara suami yang istrinya sedang melahirkan itu memandang dengan rasa syukur.

Tiba-tiba terdengar teriakan bayi dalam gubuk. Ibunya telah melahirkannya dengan selamat dan terdengar suara istri laki-laki tersebut berteriak dari dalam gubuk, "Ya Amirul Mukminin, beritahukan kepada temanmu bahwa ia mendapat anak lelaki." Orang dusun itu tersentak kaget dan mundur jauh karena malu dan berusaha mengucapkan dua kata 'Amirul Mukminin', akan tetapi kedua bibirnya tidak kuat bergerak karena besarnya kebahagiaan, keanehan dan kebengongan yang ditimbulkan oleh peristiwa itu. Laki-laki yang disebut Amirul Mukminin memperhatikan semuanya, maka ia memberi isyarat kepada orang tersebut, "Tetaplah di tempatmu, jangan takut."

Amirul Mukminin....ya Amirul Mukminin... laki-laki penolong itu tiada lain adalah Khalifah Umar bin Khattab RA. Sedangkan perempuan yang menolong melahirkan itu adalah Ummi Kultsum, istri sang Khalifah putrinya Ali bin Abi Thalib RA.

Amirul Mukminin membawa periuk dan mendekati pintu gubuk seraya memanggil istriya, "Ambillah periuk ini, hai Ummi Kultsum, beri makan ibu itu sampai kenyang." Ummi Kultsum memberi makan kepadanya sampai dia kenyang dan mengembalikan periuk itu kepada Umar dengan makanan yang tersisa di situ, lalu Umar meletakkannya dihadapan orang dusun itu dan berkata kepadanya, "Makanlah sampai kenyang, karena engkau tidak tidur semalam suntuk dan banyak menderita."

Kemudian Umar pergi bersama istrinya setelah berkata kepada orang itu, "Datanglah engkau besok pagi ke Madinah, supaya ku suruh mengambil keperluanmu dari Baitul Maal dan kami tetapkan bagi bayi itu haknya." Orang itu berkata, "Semoga Allah meridhoi Umar." Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW. tentang Umar, "Aku tidak pernah melihat orang jenius yang mengagumkan seperti dia (Umar bin Khattab)."

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dengan kecerdasan dan mata hatinya telah melihat kebahagiaan dan kebesaran dunia kita ini, lalu ia mengambil keduanya dengan ukuran yang penuh. Ketahuilah, demi Tuhan yang memilki Umar, sesungguhnya satu pemandangan seperti yang kita lihat ini lebih baik daripada timur dan barat, daripada singgasana-singgasana dan mahkota-mahkota, dan kesenangan-kesenangan dunia serta kebanggaan diri. Kerendahan hati, kesederhanaan, dan kasih sayang manakah yang memancarkan dari jiwa yang mengangkat derajat kehidupan? Di mana penampilan-penampilan kekuasaan, bahkan yang wajar dan yang seharusnya ada?

Akan tetapi Umar bukan seorang raja, karena ia di atas raja dan ia tidak meminjam kebesarannya dari sesuatu di luar dirinya. Sebaliknya ia memberikan kebesaran kepada setiap yang mendekatinya dan berhubungan dengannya. Umar tidak memaksakan kesederhanaan, melainkan ia menghirupya bersama nafasnya, dan merendah dalam kegembiraan terhadap orang besar maupun orang kecil.

Di manakah kita, dibanding dengan kedudukan seorang Umar sebagai seorang Amirul Mukminin? Di manakah para pemimpin kita dibanding Umar? Andai saja Umar ada di saat ini? Wallahu a'lam bishshowwab.
sumber : Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar di sini