Selasa, 10 Mei 2011

Amanah Membayar Hutang

Di riwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam mengisahlan tentang seorang Bani Isra'il yang meminjam uang seribu dinar dari temannya. Temannya itu berkata, "Datangkanlah mereka yang menjadi saksi!"

Dia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi."

"Kalau begitu datangkanlah kepada kami seorang kafil (Penjamin)", kata temannya.

Ia berkata, "Cukuplah Allah sebagai penjaminku."

Ia berkata, "Engkau benar."

Kemudian dia diberikan pinjaman seribu dinar dengan batas waktu yang telah disepakati. Laki-laki dati lalu pergi (pulang ke seberang) melalui laut memenuhi keperluannya. Ketika waktu membayar hutangnya tiba, ia tidak mendapatkan kapal (yang bisa berlayar ke negerinya).

Akhirnya dia mengambil sebatang kayu dan melubangi. Ia lalu memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar dan surat darinya untuk pemiiknya, kemudian dia meratakannya lalu datang ke laut, kemudian berdo'a,

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa saya telah berhutang seribu dinar. Dan ketika dia meminta penjamin, saya jadikan Engkau sebagai penjaminnya dan dia rela dengan Engkau. Dan ketika dia meminta saksi, , saya jadikan Engkau sebagai saksinya dan dia rela dengan Engkau. Sungguh saya telah berusaha keras menunggu kapal untuk mengembalikan uang orang itu, tapi saya tidak mendapatkannya. Dan sungguh saya menitipkan uang ini kepada-Mu."

Kemudian ia lempar uangnya ke laut dan hanyut terbawa ombak. Ia lalu pulang, namun kemudian ia mendapatkan kapal yang menuju ke negerinya.

Sementara itu, orang yang meminjaminya selalu melihat (ke pantai), jangan-jangan ada kapal yang di titipi membawa uangnya. Tiba-tiba ia mendapatkan sebatang kayu yang terapung. Ia lalu mengambilnya untuk dijadikan kayu bakar oleh isterinya. Ketika dibelah, ia mendapatkan uang dan surat.

Selang beberapa lama, datanglah orang yang diberi hutang itu dengan membawa seribu dinar dan berkata,

"Demi Allah, saya terus berusaha mendapatkan kapal untuk datang kepadamu membawa uangmu. Tapi saya tidak mendapatkan kapal sebelum waktu saya sekarang bisa datang."

Orang yang memberi hutang bertanya, "Apakah kamu mengirim sesuatu kepadaku"

Ia berkata, "Saya tegas bahwa saya tidak mendapatkan kapal sebelum waktu kedatangan saya ini!"

Orang yang memberi hutang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menyampaikan apa yang kamu kirim di dalam kayu. Maka pulanglah dengan tetap membawa seribu dinar dengan penuh keberuntungan." (60 Kisah Shahih dari Nabi dan Sahabat; Muhammad bin Hamid Abdul Wahab)

Subhanallah, Ketika kita berazam, menekadkan niat yang kuat untuk memenuhi janji atau beramal dengan amalan yang baik, dan kita pun berusaha untuk memenuhinya, maka sungguh Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan dan apa yang kita amalkan. Betapa beruntungya seseorang yang memilki tekad yang kuat untuk beramal, dengan memenuhi segala rintangan dalam mewujudkannya, maka Allah Yang Maha Kuasa memberikan jalan-jalanNya yang tak pernah kita sangka dan kita duga akan kita dapatkan.

Kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita: Ketika kita sudah berjanji dengan sepenuh hati, kemudian kita pun menunaikan janji kita, maka Allah akan memberikan jalan untuk mendapatkan cara menunaikan janji yang telah kita ucapkan. Niat dan kesungguhan amal serta pengharapan kepada Allah yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dan keberuntungan. Wallahu a'lam bish Showab
Selengkapnya...

Kamis, 05 Mei 2011

Hai Amru, kapan kalian memperbudak orang-orang sedangkan mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?

Di suatu ketika seorang pemuda Mesir datang kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khattab RA dan ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah orang yang berlindung kepadamu.” Kemudian Umar minta penjelasan kepadanya dan tahulah ia bahwa Muhammad bin Amru bin Ash telah memukulnya karena pemuda itu berlomba dengannya dan mendahuluinya. Maka Amirul Mu’minin pun mengirim utusan untuk memanggil Amru Ibnul Ash dan putranya Muhammad. Maka datanglah Amru ibnul Ash dengan memakai sarung dan selendang. Umar pun menoleh dan mencari putranya, Muhammad dan ternyata ia berada di belakang ayahnya.

Umar berkata, “Di mana orang Mesir itu?” Orang itu menjawab, “Ini, saya ada disini , wahai Amirul Mu’minin.” Umar berkata, “Ambillah cambuk ini dan pukullah putra orang-orang mulia itu.” Orang itu pun memukulnya hingga melukainya. Ia terus memukul. Umar berkata, “Pukullah putra orang-orang mulia itu.”

Kemudian Umar berkata lagi, “Pukulkanlah di kepala Amru, karena demi Allah ia tidak memukulmu kecuali dengan kelebihan kekuasaannya.” Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, keinginanku telah terpenuhi dan aku telah merasa puas karena orang yang memukulku telah ku pukul.” Umar berkata, “Demi Allah, seandainya engkau memukulnya, kami tidak menghalangimu untuk melakukannya sampai engkau sendiri yang meninggalkannya.”

Umar lantas menoleh kepada Amru ibnul Ash dan berkata, “Hai Amru, kapan kalian memperbudak orang-orang sedangkan mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?” Umar menoleh kepada orang Mesir itu dan berkata kepadanya, “Pergilah dengan baik dan jika engkau mengalami gangguan lagi, tulislah surat kepadaku.” (Sumber: Khulafaur Rasul; Khalid Muhammad Khalid)
Selengkapnya...

Selasa, 03 Mei 2011

Mensyukuri Nikmat Allah dan Mengakui Berasal DariNya

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Pertama, datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Rupa yang elok, kulit yang indah dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.'

Maka diusaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Unta atau sapi.'

Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan di do'akan: 'Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.'

Maka diusaplah kepalanya dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Sapi atau unta.'

Maka diberilah ia seekor sapi bunting dan di do'akan : 'Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.'

Maka diusaplah wajahnya dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Kambing.' Maka diberilah ia seekor kambing bunting.

Lalu, berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama mempunyai selembah unta, yang kedua mempunyai selembah sapi, dan yang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya, dan berkata:

'Aku orang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah dan kekayaan ini, aku minta kepada Anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.'

Tetapi di jawab: 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.'

Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya:

'Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula melarat, lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi Anda kekayaan?'

Dia malah menjawab: 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.'

Maka malaikat itu berkata kepadanya: 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.'

Lalu, malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada yang pernah menderita lepra, serta ditolaknya sebagaimana telah di tolak oleh yang pertama. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya: 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya:

'Aku orang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta kepada Anda seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.'

Orang itu menjawab: 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan supaya mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.'

Malaikat yang menyerupai orang buta itu pun berkata: 'Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.' " (HR. Bukhari-Muslim)
Selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Aku Ingin Menjaga Kesopananku Dengan-Nya

Al-Moushuli berkata : "Aku melihat seorang anak kecil yang belum sampai umur baligh di padang pasir, ia berjalan sendirian tanpa ada yang menemani sedangkan ia selalu menggerakkan kedua bibirnya. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya dan dia pun menjawab salamku. Aku bertanya kepadanya : 'Kamu mau kemana?'

Dia menjawab: 'Kepada Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung'

Moushuli : 'Mengapa kamu menggerak-gerakkan kedua bibirmu?'

Anak kecil : 'Karena aku sedang membaca kalam Allah'

Moushuli : 'Bukankah kamu belum dibebankan untuk beribadah (mukallaf)?'

Anak kecil : 'Aku telah melihat bahwa maut juga merenggut orang yang umurnya lebih kecil dariku'

Moushuli : 'Langkahmu pendek sedangkan perjalananmu sangat jauh'

Anak kecil : 'Aku hanya disuruh melangkah sedangkan sampai tidaknya aku ke tujuan adalah urusan-Nya'

Moushuli : 'Manakah perbekalan dan kendaraanmu?'

Anak kecil : 'Perbekalanku adalah keyakinanku sedangkan kendaraanku adalah dua kakiku'

Moushuli : 'Yang aku tanyakan adalah tentang makanan dan minumanmu'

Anak kecil : 'Wahai paman, apabila ada seorang makhluk yang mengundangmu untuk datang ke rumahnya, apakah pantas kamu membawa perbekalan ke rumahnya?'

Moushuli : 'Tidak!'

Anak kecil : 'Sesungguhnya Tuanku telah mengundangku untuk datang ke rumah-Nya (Baitullah) dan Dia mengumumkan kepada semua manusia untuk mengunjungi-Nya, maka kelemahan keyakinan mereka menjadikan mereka membawa perbekalan untuk memenuhi undangan Tuhan mereka, sedangkan aku mengingkari adab yang seperti itu, maka aku ingin menjaga kesopananku dengan-Nya. Apakah engkau melihat bahwa Dia menyia-nyiakanku?'

Moushuli: 'Tidak!'

Kemudian ia hilang dari pandanganku."

( Miata Qisshah wa Qisshah min Qishasis Shalihin wa Nawaidz Zahidin : Majdi Muhammad Al-Syahrawi)
Selengkapnya...

Minggu, 01 Mei 2011

Siapakah yang Bisa Menjaminmu Bisa Hidup Sehingga Engkau Bisa Melaksanakan Shalat?

Hisyam bin Hassan berkata: "Umar bin Abdul Aziz berkata kepada orang-orang di sekelilingnya:

'Aku akan naik ke atas mimbar untuk membagikan harta-harta yang kita terima dari kaum Muslimin kepada orang-orang yang berhak, setelah itu aku akan shalat.'

Lalu anaknya, Abdul Malik berkata: 'Siapakah yang bisa menjaminmu bisa hidup sehingga engkau bisa melaksanakan shalat?'

Dia bertanya: 'Jadi, kapankah kita akan shalat?'

Anaknya menjawab: 'Sekarang juga.'

Kemudian dia keluar dan menyeru manusia untuk shalat berjamaah. Setelah shalat, dia membagikan harta tersebut kepada orang-orang yang berhak menerimanya."

Dalam kisah yang lain diceritakan:

Ibnu Abu Aliyah berkata: "Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz duduk menghadapi urusan rakyatnya. Ketika tengah hari, dia merasa letih dan jemu. Lalu, dia berkata kepada orang-orang:

'Menetaplah kalian di tempat masing-masing sehingga aku datang lagi untuk menghadap kalian.'

Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat sebentar. Setelah itu anaknya yang bernama Abdul Malik datang. Lalu dia bertanya kepada orang-orang:

'Di manakah khalifah sekarang?'

Mereka menjawab: 'Dia telah masuk ke dalam rumahnya.'

Kemudian Abdul Malik meminta izin kepada para pengawal untuk menghadap. Lalu Umar mengizinkannya. Setelah masuk, Abdul Malik bertanya:

'Wahai Amirul Mukminin, apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam rumahmu?'

Dia menjawab: 'Aku ingin istirahat sebentar.'

Abdul Malik berkata: 'Apakah kamu merasa aman bahwa maut tidak akan datang kepadamu sedangkan rakyatmu menunggu di pinti masuk kekuasaanmu, sementara engkau menutup diri dari mereka?'

Lalu Umar berdiri dan segera menghadapi semua permasalahan rakyatnya."

(Miata Qishash wa Qishah min Qishashis Shalihin wa Nawaidz Zahidin, Majdi Muhammad al-Syahawi)
Selengkapnya...

Jumat, 29 April 2011

Antara Orang Kaya dan Anak Kecil Di Masjid

Suatu hari, ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan salat. Ia termasuk orang saleh. Di masjid ia melihat seorang anak kecil berusia tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan salat dengan khusyu', melakukan ruku', dan sujud dengan hening dan tenang. Tatkala anak itu selesai dari salatnya, si kaya mendekati kepadanya seraya berkata,

"Anak siapakah kamu?"

"Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku."

"Maukah kamu menjadi anakku?"

Si anak berkata, "Apakah engkau akan memberiku makanan ketika akulapar?"

Si kaya menjawab, "Ya, tentu."

"Apakah engkau akan memberiku minum saataku haus?"

"Ya, tentu saja."

"Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?"

"Ya."

"Apakah engkau akan menghidupkanku tatkala aku sudah mati?"

Takjublah lelaki itu seraya berkata, "Ini tidak mungkin dilakukan."
Anak kecil itu berkata, "Kalau begitu tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rizki, mematikanku kemudian menghidupkanku kembali."

Lelaki itu berkata, "Benar wahai anakku, barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupi."

Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian),Muhammad Sulthan.
Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

Memilih Pejabat Cara Umar bin Khattab

Pada suatu hari Umar ibnul Khattab duduk di antara sahabat-sahabatnya dan berkata, “Aku telah dibuat pusing oleh penduduk Kufah. Jika kuangkat seorang yang lunak sebagai gubernur mereka, maka mereka menekannya dan jika kuangkat orang yang kuat bagi mereka, maka mereka mengeluhkannya. Aku ingin seandainya kudapatkan seorang yang kuat, jujur, dan muslim sejati, untuk ku angkat mennjadi gubernur mereka.” Salah seorang yang duduk di situ berkata, “Demi Allah, aku akan menunjukkanmu orang yang kuat, jujur, dan muslim sejati.” Umar berkata dengan semangatnya, “Siapakah dia?” Orang itu menjawab, “Abdullah bin Umar.” Amirul Mu’minin seketika menjawab, “Semoga Allah memerangimu, demi Allah, engkau tidak mengharapkan Allah dengan hal ini.” Kemudian Umar pun memilih orang lain.

Dekat dengan Amirul Mu’minin tidak berarti kepentingan sendiri dan kedudukan terhormat bisa diraih dengan mudah, sebaliknya justru berarti keringat dan kesederhanaan. Amirul Mu’minin telah menolak desakan para sahabat dan saudara-saudaranya supaya mengangkat putranya, Abdullah, sebagai pejabat Negara. Mereka mendesak karena terdorong oleh keinginan mereka yang sangat untuk mengambil manfaat dari bakat yang dimiliki Abdullah. Akan tetapi Umar menolaknya, sebagaimana Umar menolak Abdullah untuk dicalonkan sebagai khalifah. Bahkan menolak untuk menjadikannya salah seorang dari enam orang yang dicalonkan untuk di pilih menjadi khalifah seraya berkata, “Cukup satu saja di antara keluarga Umar yang di hisab, yaitu Umar.” Para sahabat membantah, “Akan tetapi, wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya putramu, Abdullah, adalah orang yang bertaqwa dan adil, apakah dosanya dan dosa orang-orang yang merasa bahagia bila ia menjadi khalifah lantaran ia putra Amirul Mu’minin?”
Dengan tegas Umar lantas mengingatkan para sahabatnya bahwa bukan hanya Abdullah yang bertaqwa dan adil, namun di antara kaum muslimin banyak orang yang serupa dalam keadilan dan ketaqwaan. Sehingga apabila Umar lebih mengutamakan Abdullah daripada yang lain, berarti ia pilih kasih dan ingin dipuji.
Umar adalah seorang teladan sebelum menjadi penguasa, sehingga apabila sekarang ia mengangkat orang-orang yang saleh di antara keluarganya, kemana ia akan pergi bila kelak muncul penguasa-penguasa yang berlainan dalam mengangkat keluarga mereka dan berkata, “Umar telah melakukan hal ini.” Oleh karena itu ia meletakkan suatu prinsip yang agung:
“Barangsiapa mengangkat seseorang sebagai pejabat karena kesayangan atau kekerabatan dan tidak ada alasan pengangkatannya selain itu, maka berarti ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.”
Oleh karena itu, Umar selalu merenung dan berpikir, mohon petunjuk dari Allah dan meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Ia berkata kepada sahabatnya, “Bagaimana pendapat kalian seandainya kuangkat pejabat yang mengurusi kalian dan ia adalah sebaik-baik yang kuketahui, kemudian kusuruh dia berbuat adil, apakah hal itu membebaskan tanggungjawabku?” Para sahabatya menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Tidak, hingga aku melihat perbuatannya, apakah ia berbuat sesuai dengan perintahku atau tidak.” Selanjutnya ia pun berkata, “Pejabat mana pun yang ku angkat sedang ia berbuat aniaya kepada seseorang dan telah ku dengar kezalimannya namun aku tidak merubahnya, maka aku telah berbuat aniaya kepadanya.”
Ia pertama kali menolak setiap orang yang ingin mendapatkan jabatan. Dalam hal ini ia mengikuti jejak Rasulullah SAW. Karena berliau pernah bersabda, “Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak menyerahkan urusan ini kepada seseorang yang memintanya atau menginginkannya.” Ini adalah langkah-langkah pertama Umar dalam memilih pembantu-pembantunya, yaitu menjauhkan setiap orang yang menginginkann jabatan dan berambisi kepadanya. Sebab, orang yang memiliki keinginan menjadi penguasa, akan memiliki keinginan untuk sewenang-wenang dan orang-orang yang minta supaya diangkat menjadi penguasa and gubernur, mereka itu tidak menghargai tanggung jawab pemerintahan, kalau tidak, niscaya mereka telah menghindar darinya dan menjauhinya.
Pada suatu hari Umar merahasiakan bahwa dirinya akan memilih seorang sahabatnya untuk menjadi gubernur di salah satu daerah. Seandainya sahabatnya itu bersabar beberapa saar, niscaya Umar telah memanggil dan memebrinya jabatan. Akan tetapi telah mendahului urusan yang belum diketahuinya dan pergi kepada Amirul Mu’minin untuk memintanya memberikan jabatan itu kepadanya. Umar tersenyum dan berpikir sejenak, kemudian berkata kepada sahabatnya, “Tadinya aku ingin memberimu jabatan itu, akan tetapi siapa yang meminta perkara ini tidak akan terpenuhi dan tidak dikabulkan.”
Setiap orang yang meminta kekuasaan memiliki penilaian yang buruk terhadap tanggungjawab dan akibatnya, karenanya Umar tidak menganggapnya pantas untuk melakukan itu. Inilah pertama yang pertama kali dimintanya daripara gubernurnya, “Kezuhudan dalam jabatan, dan penghindaran diri darinya, hingga apabila jabatan itu dating kepada mereka dengan terpaksa, mereka pun menerimanya dengan prihatin.”
Setelah itu, Umar memilih orang yang kuat dan jujur sebagai gubernur. Segera setelah memilih gubernurnya ia memegang tangannya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak mengangkatmu untuk menumpahkan darah kaum muslimin dan menyerang kehormatan mereka. Akan tetapi aku mengangkatmu untuk mendirikan shalat di antara mereka dan membagikan sedekah kepada mereka serta memutuskan hokum di antara mereka dengan adil.” Kemudian ia menyebutkan larangan-larangan yang harus dijauhi gubernur yang diangkatnya, “Jangan menaiki kuda yang istimewa, jangan memakai baju yang tipis, jangan memakan makanan yang enak-enak, jangan menutup pintumu bila orang-orang memerlukanmu.”
Mengapa Umar menghalangi para pegawainya dari kebaikan-kebaikan yang mubah itu; hewan yang istimewa, baju yang tipis, dan makan yang nyaman? Ia berbuat begitu supaya mereka selalu berada dalam tingkatan rakyat yang bekerja keras dan miskin, sehingga tetap dalam tempat mereka yang hak sebagai pelayan masyarakat, bukan sebagai pemimpin mereka. Ia tidak ingin gubernur-gubernurnya terpedaya atau hidup bersenang-senang, atau mendapat kemewahan dan keistimewaan atas nama pemerintahan.
Lihatlah bagaimana ia melukiskan gambaran pemimpin yang disukainya dan penguasa yang diutamakannya.
Pada suatu hari ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Tunjukkan kepadaku seorang laki-laki kepada siapa akan kuserahkan urusan yang penting bagiku.” Mereka berkata, “”Si Fulan.” Umar berkata, “Kami tidak memerlukannya.” Orang-orang itu berkata, “Siapakah yang engkau inginkan?” Umar menjawab, “Aku menginginkan seorang laki-laki yang apabila berada di antara suatu kaum dan tidak ada pemimpin bagi mereka, maka ia tampak seakan-akan pemimpin mereka. Dan apabila berada di antara mereka sedangkan ia adalah pemimpin mereka, maka tampak seakan-akan ia salah seorang dari mereka.”
Demikianlah sedikit gambaran dari sekian banyak mata kecemerlangan Amirul mu’minin Umar bin Khattab tentang bagaimana beliau memilih para pembantunya dalam menangani urusan kaum muslimin. Para pejabatnya tidak memiliki peluang untuk berbuat sewenang-wenang, semuanya di kontrol dari pusat pemerintahan yang beliau jalankan. Dan dalam menjalankan pemerintahannya, tak segan-segan Umar akan memecat pembantunya bila ia tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki rakyatnya. Mudah-mudahan kita semuanya dan para pemimpin kita dapat mengambil ibrah yang sangat berharga dengan keteladanan Umar bin Khattab selaku khalifah kaum muslimin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq RA., didikan dan binaan langsung tangan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish shawwab.

Maraji’: Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid
Selengkapnya...

Kisah Seorang Yang Masuk Surga Padahal Belum Shalat Satu Raka’atpun

Tatkala Rasulullah mengadakan pengepungan terhadap beberapa benteng Khaibar, datang seorang penggembala yang berwajah hitam bersama kambing-kambing gembalaannya. Dia bekerja dengan orang-orang Yahudi di benteng itu sebagai orang upahan. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, paparkan kepadaku apa itu Islam.” Lantas beliau memaparkannya secara panjang lebar, maka orang itu pun masuk Islam.
Tatkala sudah masuk Islam, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang upahan yang bekerja pada pemilik kambing-kambing ini sebagai amanat bagiku. Apa yang seharusnya aku perbuat.?”

Beliau menjawab, “Lemparkan pasir ke wajah-wajahnya, pasti ia akan kembali lagi ke tuannya.” Maka, si penggembala berkulit hitam ini mengambil segenggam kerikil, lalu melemparkannya ke arah wajah kambing-kambing tersebut seraya berkata, ‘pulanglah ke tuan kalian, demi Allah, aku tidak akan pernah sudi lagi menemani kalian.” Maka kambing-kambing itu pun pergi secara bergerombolan seakan ada orang yang menggiringnya hingga semuanya masuk ke benteng itu.
Setelah itu, si penggembala maju ke arah benteng itu untuk ikut serta berperang bersama kaum Muslimin namun dia terkena lemparan batu keras yang kemudian merenggut nyawanya, padahal dia belum sempat shalat untuk Allah walaupun satu raka’at.
Kemudian jenazahnya dibawa ke samping Rasulullah SAW., dalam kondisi tertutup dengan pakaian yang terlilit. Lalu beliau yang ketika itu bersama sebagian para shahabatnya menoleh ke arahnya kemudian berpaling. Mereka lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berpaling darinya.?”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya dia sekarang bersama isterinya, bidadari cantik yang sedang menggerak-gerakkan badannya untuk menghilangkan debu yang menempel.”

(SUMBER: Mi`ah Qishshah Wa Qishshah, karya Muhammad Amîn al-Jundy, Juz.II, h.19-20)
Selengkapnya...

Selasa, 26 April 2011

Belajar Sedekah dari Imam Ali Bin Abi Thalib

Fatimah binti Rasulullah SAW, isteri Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah didatangi seorang peminta sedekah. Ketika itu Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah mempunyai 50 dirham. Setelah menerima uang, pengemis itu pun balik. Di tengah jalan, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah bertanya berapa banyak yang diberi oleh Fatimah. Apabila diberitahu 25 dirham, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah menyuruh pengemis itu pergi sekali lagi ke rumahnya. Pengemis itu pun pergi dan Fatimah memberikan baki 25 dirham kepada pengemis itu. Selang beberapa hari, datang seorang hamba Allah berjumpa Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah dengan membawa seekor unta. Orang itu mengadu dalam kesusahan dan ingin menjualkan untanya. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah tanpa berlengah menyatakan kesanggupan untuk membelinya, meskipun ketika itu dia tidak memiliki uang. Dia berjanji akan membayar harga unta itu dalam masa beberapa hari. Dalam perjalanan pulang, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah berjumpa dengan seorang lelaki yang ingin membeli unta itu dengan harga yang lebih tinggi daripada harga asal. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pun menjualkan unta itu kepada orang itu. Setelah mendapat uang, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pun menjelaskan hutangnya kepada penjual unta. Beberapa hari kemudian, Rasulullah s.a.w. berjumpa Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah lalu bertanya "Ya Ali, tahukah kamu siapakah yang menjual dan membeli unta itu?" Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah mengatakan bahwa ia tidak tahu, Nabi menerangkan yang menjual itu ialah Jibril dan yang membelinya ialah Mikail.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (Al-Isra’:7)

Maha Suci Allah Yang telah menurunkan Islam melalui Rasul-Nya yang mulia. Islam menjadi bukan sekadar indah. Tapi, mudah dan penuh berkah. Seperti halnya hujan, siraman Islam mampu menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang pernah dianggap mati.

Sumber: www.dakwatuna.com
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Kenyamanan Tidur Sang Khalifah

Di Madinah yang tenang, hari itu. Siang berlalu setengah perjalanan. Serombongan orang yang Nampak asing berjalan memasuki kota suci Islam kedua itu. Ternyata itu rombongan Hurmuzan, Panglima dan Pangeran Persia yang telah ditaklukkan pasukan Muslim, yang ingin bertemu dengan Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khattab.
Dengan ditemani Anas bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan maemasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel dan sutera yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu, sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung pada sabuknya. Ia bertanya-tanya di mana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh dunia pasti tinggal di sebuah istana yang megah.

Sampai di Madinah, mereka langsung menuju ke tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga melihat Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan Masjid dengan menggunakan manteknya sebagai bantal.
Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukkan bahwa Umar adalah lelaki dengan pakaian seadanya, yang sedang tidur di Masjid itu.
Maka, dalam riwayat lain dikatakan, sambil berdecak heran Hurmuzan bergumam, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman, dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”
Setelah itu terjadi dialog panjang lebar. Juga kesepakatan-kesepakatan penting. Tetapi sepenggal kisah di atas, adalah kisah tentang kebesaran orang-orang terbaik sepanjang sejarah, seperti halnya Umar, yang mengajarkan arti sesungguhnya dari rasa aman dan tenang. Bisa kah dibayangkan, seorang pemimpin tertinggi, yang kekuasaannya bergema ke seantero bumi, dengan ringan dan tanpa rasa takut sedikit pun tidur-tiduran di emperan Masjid? (Sumber: Majalah Tarbawi)
Selengkapnya...