Kamis, 28 April 2011

Memilih Pejabat Cara Umar bin Khattab

Pada suatu hari Umar ibnul Khattab duduk di antara sahabat-sahabatnya dan berkata, “Aku telah dibuat pusing oleh penduduk Kufah. Jika kuangkat seorang yang lunak sebagai gubernur mereka, maka mereka menekannya dan jika kuangkat orang yang kuat bagi mereka, maka mereka mengeluhkannya. Aku ingin seandainya kudapatkan seorang yang kuat, jujur, dan muslim sejati, untuk ku angkat mennjadi gubernur mereka.” Salah seorang yang duduk di situ berkata, “Demi Allah, aku akan menunjukkanmu orang yang kuat, jujur, dan muslim sejati.” Umar berkata dengan semangatnya, “Siapakah dia?” Orang itu menjawab, “Abdullah bin Umar.” Amirul Mu’minin seketika menjawab, “Semoga Allah memerangimu, demi Allah, engkau tidak mengharapkan Allah dengan hal ini.” Kemudian Umar pun memilih orang lain.

Dekat dengan Amirul Mu’minin tidak berarti kepentingan sendiri dan kedudukan terhormat bisa diraih dengan mudah, sebaliknya justru berarti keringat dan kesederhanaan. Amirul Mu’minin telah menolak desakan para sahabat dan saudara-saudaranya supaya mengangkat putranya, Abdullah, sebagai pejabat Negara. Mereka mendesak karena terdorong oleh keinginan mereka yang sangat untuk mengambil manfaat dari bakat yang dimiliki Abdullah. Akan tetapi Umar menolaknya, sebagaimana Umar menolak Abdullah untuk dicalonkan sebagai khalifah. Bahkan menolak untuk menjadikannya salah seorang dari enam orang yang dicalonkan untuk di pilih menjadi khalifah seraya berkata, “Cukup satu saja di antara keluarga Umar yang di hisab, yaitu Umar.” Para sahabat membantah, “Akan tetapi, wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya putramu, Abdullah, adalah orang yang bertaqwa dan adil, apakah dosanya dan dosa orang-orang yang merasa bahagia bila ia menjadi khalifah lantaran ia putra Amirul Mu’minin?”
Dengan tegas Umar lantas mengingatkan para sahabatnya bahwa bukan hanya Abdullah yang bertaqwa dan adil, namun di antara kaum muslimin banyak orang yang serupa dalam keadilan dan ketaqwaan. Sehingga apabila Umar lebih mengutamakan Abdullah daripada yang lain, berarti ia pilih kasih dan ingin dipuji.
Umar adalah seorang teladan sebelum menjadi penguasa, sehingga apabila sekarang ia mengangkat orang-orang yang saleh di antara keluarganya, kemana ia akan pergi bila kelak muncul penguasa-penguasa yang berlainan dalam mengangkat keluarga mereka dan berkata, “Umar telah melakukan hal ini.” Oleh karena itu ia meletakkan suatu prinsip yang agung:
“Barangsiapa mengangkat seseorang sebagai pejabat karena kesayangan atau kekerabatan dan tidak ada alasan pengangkatannya selain itu, maka berarti ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.”
Oleh karena itu, Umar selalu merenung dan berpikir, mohon petunjuk dari Allah dan meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Ia berkata kepada sahabatnya, “Bagaimana pendapat kalian seandainya kuangkat pejabat yang mengurusi kalian dan ia adalah sebaik-baik yang kuketahui, kemudian kusuruh dia berbuat adil, apakah hal itu membebaskan tanggungjawabku?” Para sahabatya menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Tidak, hingga aku melihat perbuatannya, apakah ia berbuat sesuai dengan perintahku atau tidak.” Selanjutnya ia pun berkata, “Pejabat mana pun yang ku angkat sedang ia berbuat aniaya kepada seseorang dan telah ku dengar kezalimannya namun aku tidak merubahnya, maka aku telah berbuat aniaya kepadanya.”
Ia pertama kali menolak setiap orang yang ingin mendapatkan jabatan. Dalam hal ini ia mengikuti jejak Rasulullah SAW. Karena berliau pernah bersabda, “Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak menyerahkan urusan ini kepada seseorang yang memintanya atau menginginkannya.” Ini adalah langkah-langkah pertama Umar dalam memilih pembantu-pembantunya, yaitu menjauhkan setiap orang yang menginginkann jabatan dan berambisi kepadanya. Sebab, orang yang memiliki keinginan menjadi penguasa, akan memiliki keinginan untuk sewenang-wenang dan orang-orang yang minta supaya diangkat menjadi penguasa and gubernur, mereka itu tidak menghargai tanggung jawab pemerintahan, kalau tidak, niscaya mereka telah menghindar darinya dan menjauhinya.
Pada suatu hari Umar merahasiakan bahwa dirinya akan memilih seorang sahabatnya untuk menjadi gubernur di salah satu daerah. Seandainya sahabatnya itu bersabar beberapa saar, niscaya Umar telah memanggil dan memebrinya jabatan. Akan tetapi telah mendahului urusan yang belum diketahuinya dan pergi kepada Amirul Mu’minin untuk memintanya memberikan jabatan itu kepadanya. Umar tersenyum dan berpikir sejenak, kemudian berkata kepada sahabatnya, “Tadinya aku ingin memberimu jabatan itu, akan tetapi siapa yang meminta perkara ini tidak akan terpenuhi dan tidak dikabulkan.”
Setiap orang yang meminta kekuasaan memiliki penilaian yang buruk terhadap tanggungjawab dan akibatnya, karenanya Umar tidak menganggapnya pantas untuk melakukan itu. Inilah pertama yang pertama kali dimintanya daripara gubernurnya, “Kezuhudan dalam jabatan, dan penghindaran diri darinya, hingga apabila jabatan itu dating kepada mereka dengan terpaksa, mereka pun menerimanya dengan prihatin.”
Setelah itu, Umar memilih orang yang kuat dan jujur sebagai gubernur. Segera setelah memilih gubernurnya ia memegang tangannya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak mengangkatmu untuk menumpahkan darah kaum muslimin dan menyerang kehormatan mereka. Akan tetapi aku mengangkatmu untuk mendirikan shalat di antara mereka dan membagikan sedekah kepada mereka serta memutuskan hokum di antara mereka dengan adil.” Kemudian ia menyebutkan larangan-larangan yang harus dijauhi gubernur yang diangkatnya, “Jangan menaiki kuda yang istimewa, jangan memakai baju yang tipis, jangan memakan makanan yang enak-enak, jangan menutup pintumu bila orang-orang memerlukanmu.”
Mengapa Umar menghalangi para pegawainya dari kebaikan-kebaikan yang mubah itu; hewan yang istimewa, baju yang tipis, dan makan yang nyaman? Ia berbuat begitu supaya mereka selalu berada dalam tingkatan rakyat yang bekerja keras dan miskin, sehingga tetap dalam tempat mereka yang hak sebagai pelayan masyarakat, bukan sebagai pemimpin mereka. Ia tidak ingin gubernur-gubernurnya terpedaya atau hidup bersenang-senang, atau mendapat kemewahan dan keistimewaan atas nama pemerintahan.
Lihatlah bagaimana ia melukiskan gambaran pemimpin yang disukainya dan penguasa yang diutamakannya.
Pada suatu hari ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Tunjukkan kepadaku seorang laki-laki kepada siapa akan kuserahkan urusan yang penting bagiku.” Mereka berkata, “”Si Fulan.” Umar berkata, “Kami tidak memerlukannya.” Orang-orang itu berkata, “Siapakah yang engkau inginkan?” Umar menjawab, “Aku menginginkan seorang laki-laki yang apabila berada di antara suatu kaum dan tidak ada pemimpin bagi mereka, maka ia tampak seakan-akan pemimpin mereka. Dan apabila berada di antara mereka sedangkan ia adalah pemimpin mereka, maka tampak seakan-akan ia salah seorang dari mereka.”
Demikianlah sedikit gambaran dari sekian banyak mata kecemerlangan Amirul mu’minin Umar bin Khattab tentang bagaimana beliau memilih para pembantunya dalam menangani urusan kaum muslimin. Para pejabatnya tidak memiliki peluang untuk berbuat sewenang-wenang, semuanya di kontrol dari pusat pemerintahan yang beliau jalankan. Dan dalam menjalankan pemerintahannya, tak segan-segan Umar akan memecat pembantunya bila ia tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki rakyatnya. Mudah-mudahan kita semuanya dan para pemimpin kita dapat mengambil ibrah yang sangat berharga dengan keteladanan Umar bin Khattab selaku khalifah kaum muslimin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq RA., didikan dan binaan langsung tangan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish shawwab.

Maraji’: Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar di sini