Sabtu, 31 Oktober 2009

Apel Haram

Cerita ini dari Mesir. Pencerita bilang dia lagi shalat tahiyatul masjid, khusu’nya keganggu oleh bau asep rokok yang kuat banget, setelah salam dia tahu dimana asal bau itu, dari orang yang bibirnya saja item karena rokok. Dia ngomong ke dirinya, “nanti selesai solat gue mao ngomong ama tuh orang.” Tapi ngedadak ada anak kecil sembilan taunan umurnya masuk mesjid, duduk disamping perokok itu. Dan si anak itu mencium bau asap rokok juga, kemudian mereka terdengar ngobrol.

...isi dari sebagian artikel...
Anak: Assalamu’alaikum paman, paman orang mesir?
Perokok: ya betul aku orang mesir.
Anak : Paman kenal Syeikh Abdul Hamid Kisyk?
Perokok: ya kenal.
Anak : Paman juga kenal Syeikh Jaad al-Haq?
Perokok: ya kenal juga.
Anak : Paman juga kenal Syeikh Muhammad al-Ghazali?
Perokok: ya aku juga kenal.
Anak : Paman pernah dong mendengar pendapat dan fatwa-fatwa mereka?
Perokok: ya dengar juga.
Anak : Mereka itu ulama dan syeikh yang berkata bahwa rokok itu haram, kenapa paman menghisapnya??
Perokok: Ngga, rokok ngga haram.
Anak : Haram paman, bukankah Allah mengharamkannya: وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الخَبَائِثِ (Allah mengharamkan yang buruk-buruk bagi kalian) apakah paman waktu ngerokok baca bismillah dan baca alhamdulillah waktu selesainya??
Perokok: Ngga, rokok ngga haram, mana ada ayat al-Quran yang berbunyi وَيُحَرِّمُ عَلَيْكُمُ الدُخَانَ (Allah mengharamkan rokok bagimu).
Anak : Paman, rokok itu haram seperti haramnya apel!!!
Perokok: (sambil marah) Apel haram!!! Bagaimana kamu bisa menghalalkan dan mengharamkan itu.
Anak : Coba paman tunjukkan ayat وَيُحِلُّ لَكُمُ التُّفَاحَ (Allah menghalalkan apel)!
Perokok itu sadar diri dan diam, ngga keluar lagi kata-katanya, seterusnya dia nangis dan waktu solat juga dia nangis. Sehabis solat perokok itu deketin si anak kecil, sang da’i yang nyadarin dirinya, terus janji, “nak, paman berjanji kepada Allah tidak akan ngerokok lagi sampai akhir hidup paman.” (www.dakwatuna.com)
Selengkapnya...

Selasa, 07 Juli 2009

Aku Khawatir Kedua Unta itu Akan Hilang Sehingga Allah Akan Menanyaiku Tentang Keduanya

Pada suatu hari yang sangat panas dan panasnya nyaris melelehkan gunung-gunung, Utsman bin Affan mengintai dari rumahnya di Aliyah. Terlihat olehnya seorang laki-laki sedang menggiring dua ekor unta kecil di depannya. Ia berkata dalam hatinya, “Mengapa orang ini tidak berdiam di Madinah hingga udara menjadi dingin?” Kemudian ia menyuruh pelayannya untuk melihat siapa orang yang lewat itu dari jauh dan yang jejak-jejaknya telah tertutup oleh angin ribut dan pasir-pasir yang bertiup kencang. Pelayan itu melihat dari celah pintu, lalu ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki bersurban dengan selendangnya sedang menggiring dua ekor unta kecil di depannya.”

Pelayan itu menunggu hingga orang itu mendekat, maka pelayan itu mengenalnya dan berteriak, “Sesungguhnya ia adalah Umar, Amirul Mukminin.” Utsman mengeluarkan kepalanya dari lobang kecil karena berlindung dari panasnya angin dan memanggil, “Apa sebabnya engkau keluar pada saat ini, wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab, “Dua ekor anak unta dari unta-unta sedekah lari dari tempat gembala, dan aku khawatir kedua unta itu akan hilang sehingga Allah akan menanyaiku tentang keduanya.” Utsman berkata, “Kemarilah engkau untuk berteduh dan membasahi badan dengan air. Biarlah kami yang mengerjakan urusan itu.” Umar menoleh, “Kembalilah ke tempatmu berteduh, hai Utsman.” Utsman berkata, “Kami punya orang untuk mengerjakan urusan itu, wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata sekali lagi, “Kembalilah ke tempatmu berteduh, hai Utsman.” Umar terus berjalan sedang udara makin menyengat. Maka berkatalah Utsman dalam keadaan terpesona dan tercengan, “Siapa yang ingin melihat orang yang kuat dan jujur, hendaklah ia melihat Umar.”
Selengkapnya...

Kamis, 18 Juni 2009

PERSATUAN

Alkisah, di sebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera. Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang, sejak kecil mereka tidak pernah akur.Dari bertengkar mulut hingga beradu fisik sering terjadi di antara mereka.
Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai-berai karena tidak akur bagaimana jika harus bertempur melawan musuh, begitu pikir sang raja. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberi pengertian kepada anak-anaknya agar jangan hanya memikirkan diri sendiri.

Raja sangat menginginkan mereka akur sehingga bisa bahu-membahu jika menghadapi serangan dari luar, serta agar bisa memberi contoh rakyatnya hidup rukun di negeri sendiri. Suatu hari, saat berkumpul di meja makan, sebelum acara makan dimulai, raja memerintahkan kepada mereka: ”Anakku, ambillah sebatang sumpit di depan kalian dan coba patahkan.” Walaupun heran dengan perintah sang ayah, mereka segera mematuhinya dan mematahkan sumpit itu dengan mudah. Kemudian, raja meminta sumpit tambahan kepada pelayan. ”Sekarang, patahkan sepasang sumpit di depan kalian itu.”

Kembali mereka dengan senang hati memamerkan kekuatan fisik masing-masing dan segera patahlah sepasang sumpit tersebut. Raja kemudian kembali meminta sumpit tambahan dan memerintahkan anakanaknya mematahkan sumpit yang kali ini ada tiga batang. Dengan susah payah, ada yang berhasil mematahkan, namun ada juga yang akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka lantas bertanya: ”Ayah, mengapa kami harus mematahkan sumpit-sumpit ini dari satu batang hingga tiga batang. Untuk apa semua ini?” ”Pertanyaan bagus anakku. Sumpit-sumpit adalah sebuah perlambang kekuatan. Jika satu batang mudah dipatahkan, maka jika beberapa batang sumpit disatukan, tidak akan mudah untuk dipatahkan. Sama seperti kalian. Bila mau bersatu, maka tidak akan ada pihak luar atau musuh yang akan mengalahkan kita. Tapi bila kekuatan kita tercerai berai, maka musuh akan mudah mengalahkan kita. Ayah ingin kalian bersatu, bersama-sama membangun negara dan rakyat negeri ini. Jika kita mampu menjaga kekompakan dan memberi contoh kepada seluruh rakyat negri ini, maka kerajaan kita pasti akan tetap sejahtera dan semakin makmur,”jelas sang raja. ”Anak-anakku, usia ayah sudah lanjut. Kini saatnya ayah titipkan kerajaan ini ke tangan kalian semua. Ayah percaya kalian akan mampu menyelesaikan masalah di negeri ini bila kalian bersatu.” Untuk membangun komunitas baik keluarga, perusahaan, pemerintah, ataupun komunitas-komunitas lainnya, mutlak diperlukan semangat kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Seperti sebuah pepatah tiongkok kuno yang mengatakan,”Bersatu adalah kekuatan". Tanpa kekompakan akan mudah retak rapuh dan tercerai berai.” Adanya persatuan yang dibangun berlandaskan pengertian dan kepercayaan antarpribadi, akan memunculkan kekuatan sinergi yang solid dan mantap. Dengan modal tersebut, sebuah komunitas akan bisa berkembang menuju keberhasilan yang mengagumkan. (Disadur dari www.andriewongso.com)
Selengkapnya...

Rabu, 17 Juni 2009

Beritahukan Kepada Temanmu Bahwa Ia Mendapat Anak Lelaki

Pada suatu malam seorang lak-laki keluar berkeliling seorang diri sementara orang-orang sedang tidur supaya ia bisa tenteram melihat dan memeriksa keadaan kaumnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka di malam hari. Di suatu dataran tinggi Madinah, ia melihat sebuah gubuk dan terdengar rintihan seorang perempuan. Laki-laki itu segera menghampirinya dan melihat seorang laki-laki sedang duduk di pintu gubuk dan diberitahu olehnya bahwa ia adalah suami wanita yang merintih itu. Tahulah ia perempuan itu menderita sakit karena hampir melahirkan dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena suami dan istri itu berasal dari dusun dan mereka berhenti di situ sebagai orang asing. Laki-laki itu segera pulang ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, "Apakah engkau ingin mendapatkan ganjaran dari Allah?" istrinya bertanya, "Kebaikan?" Laki-laki itu berkata, "Seorang perempuan asing sedang merintih hampir melahirkan dan tidak ada seorang pun yang menolongnya." Istrinya berkata, "Ya, jika engkau kehendaki."

Laki-laki itu berdiri menyiapkan bekal dan alat-alat yang diperlukan seorang ibu yang melahirkan, berupa tepung, samin, dan potongan-potongan kain untuk mebungkus bayi. Laki-laki itu membawa periuk di atas pundaknya dan tepung di sebelah pundaknya yang lain, lalu berkata kepada istrinya, "Ikutilah aku." Keduanya mendatangi gubuk itu dan istri laki-laki itu masuk untuk menolong perempuan itu melahirkan. Sedangkan suaminya duduk di luar gubuk dan memasang tungku, meletakkan periuk itu di atasnya, lalu menyalakan api di bawahnya, memasak makanan bagi itu, sementara suami yang istrinya sedang melahirkan itu memandang dengan rasa syukur.

Tiba-tiba terdengar teriakan bayi dalam gubuk. Ibunya telah melahirkannya dengan selamat dan terdengar suara istri laki-laki tersebut berteriak dari dalam gubuk, "Ya Amirul Mukminin, beritahukan kepada temanmu bahwa ia mendapat anak lelaki." Orang dusun itu tersentak kaget dan mundur jauh karena malu dan berusaha mengucapkan dua kata 'Amirul Mukminin', akan tetapi kedua bibirnya tidak kuat bergerak karena besarnya kebahagiaan, keanehan dan kebengongan yang ditimbulkan oleh peristiwa itu. Laki-laki yang disebut Amirul Mukminin memperhatikan semuanya, maka ia memberi isyarat kepada orang tersebut, "Tetaplah di tempatmu, jangan takut."

Amirul Mukminin....ya Amirul Mukminin... laki-laki penolong itu tiada lain adalah Khalifah Umar bin Khattab RA. Sedangkan perempuan yang menolong melahirkan itu adalah Ummi Kultsum, istri sang Khalifah putrinya Ali bin Abi Thalib RA.

Amirul Mukminin membawa periuk dan mendekati pintu gubuk seraya memanggil istriya, "Ambillah periuk ini, hai Ummi Kultsum, beri makan ibu itu sampai kenyang." Ummi Kultsum memberi makan kepadanya sampai dia kenyang dan mengembalikan periuk itu kepada Umar dengan makanan yang tersisa di situ, lalu Umar meletakkannya dihadapan orang dusun itu dan berkata kepadanya, "Makanlah sampai kenyang, karena engkau tidak tidur semalam suntuk dan banyak menderita."

Kemudian Umar pergi bersama istrinya setelah berkata kepada orang itu, "Datanglah engkau besok pagi ke Madinah, supaya ku suruh mengambil keperluanmu dari Baitul Maal dan kami tetapkan bagi bayi itu haknya." Orang itu berkata, "Semoga Allah meridhoi Umar." Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW. tentang Umar, "Aku tidak pernah melihat orang jenius yang mengagumkan seperti dia (Umar bin Khattab)."

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dengan kecerdasan dan mata hatinya telah melihat kebahagiaan dan kebesaran dunia kita ini, lalu ia mengambil keduanya dengan ukuran yang penuh. Ketahuilah, demi Tuhan yang memilki Umar, sesungguhnya satu pemandangan seperti yang kita lihat ini lebih baik daripada timur dan barat, daripada singgasana-singgasana dan mahkota-mahkota, dan kesenangan-kesenangan dunia serta kebanggaan diri. Kerendahan hati, kesederhanaan, dan kasih sayang manakah yang memancarkan dari jiwa yang mengangkat derajat kehidupan? Di mana penampilan-penampilan kekuasaan, bahkan yang wajar dan yang seharusnya ada?

Akan tetapi Umar bukan seorang raja, karena ia di atas raja dan ia tidak meminjam kebesarannya dari sesuatu di luar dirinya. Sebaliknya ia memberikan kebesaran kepada setiap yang mendekatinya dan berhubungan dengannya. Umar tidak memaksakan kesederhanaan, melainkan ia menghirupya bersama nafasnya, dan merendah dalam kegembiraan terhadap orang besar maupun orang kecil.

Di manakah kita, dibanding dengan kedudukan seorang Umar sebagai seorang Amirul Mukminin? Di manakah para pemimpin kita dibanding Umar? Andai saja Umar ada di saat ini? Wallahu a'lam bishshowwab.
sumber : Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid
Selengkapnya...