Jumat, 29 April 2011

Antara Orang Kaya dan Anak Kecil Di Masjid

Suatu hari, ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan salat. Ia termasuk orang saleh. Di masjid ia melihat seorang anak kecil berusia tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan salat dengan khusyu', melakukan ruku', dan sujud dengan hening dan tenang. Tatkala anak itu selesai dari salatnya, si kaya mendekati kepadanya seraya berkata,

"Anak siapakah kamu?"

"Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku."

"Maukah kamu menjadi anakku?"

Si anak berkata, "Apakah engkau akan memberiku makanan ketika akulapar?"

Si kaya menjawab, "Ya, tentu."

"Apakah engkau akan memberiku minum saataku haus?"

"Ya, tentu saja."

"Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?"

"Ya."

"Apakah engkau akan menghidupkanku tatkala aku sudah mati?"

Takjublah lelaki itu seraya berkata, "Ini tidak mungkin dilakukan."
Anak kecil itu berkata, "Kalau begitu tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rizki, mematikanku kemudian menghidupkanku kembali."

Lelaki itu berkata, "Benar wahai anakku, barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupi."

Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian),Muhammad Sulthan.
Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

Memilih Pejabat Cara Umar bin Khattab

Pada suatu hari Umar ibnul Khattab duduk di antara sahabat-sahabatnya dan berkata, “Aku telah dibuat pusing oleh penduduk Kufah. Jika kuangkat seorang yang lunak sebagai gubernur mereka, maka mereka menekannya dan jika kuangkat orang yang kuat bagi mereka, maka mereka mengeluhkannya. Aku ingin seandainya kudapatkan seorang yang kuat, jujur, dan muslim sejati, untuk ku angkat mennjadi gubernur mereka.” Salah seorang yang duduk di situ berkata, “Demi Allah, aku akan menunjukkanmu orang yang kuat, jujur, dan muslim sejati.” Umar berkata dengan semangatnya, “Siapakah dia?” Orang itu menjawab, “Abdullah bin Umar.” Amirul Mu’minin seketika menjawab, “Semoga Allah memerangimu, demi Allah, engkau tidak mengharapkan Allah dengan hal ini.” Kemudian Umar pun memilih orang lain.

Dekat dengan Amirul Mu’minin tidak berarti kepentingan sendiri dan kedudukan terhormat bisa diraih dengan mudah, sebaliknya justru berarti keringat dan kesederhanaan. Amirul Mu’minin telah menolak desakan para sahabat dan saudara-saudaranya supaya mengangkat putranya, Abdullah, sebagai pejabat Negara. Mereka mendesak karena terdorong oleh keinginan mereka yang sangat untuk mengambil manfaat dari bakat yang dimiliki Abdullah. Akan tetapi Umar menolaknya, sebagaimana Umar menolak Abdullah untuk dicalonkan sebagai khalifah. Bahkan menolak untuk menjadikannya salah seorang dari enam orang yang dicalonkan untuk di pilih menjadi khalifah seraya berkata, “Cukup satu saja di antara keluarga Umar yang di hisab, yaitu Umar.” Para sahabat membantah, “Akan tetapi, wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya putramu, Abdullah, adalah orang yang bertaqwa dan adil, apakah dosanya dan dosa orang-orang yang merasa bahagia bila ia menjadi khalifah lantaran ia putra Amirul Mu’minin?”
Dengan tegas Umar lantas mengingatkan para sahabatnya bahwa bukan hanya Abdullah yang bertaqwa dan adil, namun di antara kaum muslimin banyak orang yang serupa dalam keadilan dan ketaqwaan. Sehingga apabila Umar lebih mengutamakan Abdullah daripada yang lain, berarti ia pilih kasih dan ingin dipuji.
Umar adalah seorang teladan sebelum menjadi penguasa, sehingga apabila sekarang ia mengangkat orang-orang yang saleh di antara keluarganya, kemana ia akan pergi bila kelak muncul penguasa-penguasa yang berlainan dalam mengangkat keluarga mereka dan berkata, “Umar telah melakukan hal ini.” Oleh karena itu ia meletakkan suatu prinsip yang agung:
“Barangsiapa mengangkat seseorang sebagai pejabat karena kesayangan atau kekerabatan dan tidak ada alasan pengangkatannya selain itu, maka berarti ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.”
Oleh karena itu, Umar selalu merenung dan berpikir, mohon petunjuk dari Allah dan meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Ia berkata kepada sahabatnya, “Bagaimana pendapat kalian seandainya kuangkat pejabat yang mengurusi kalian dan ia adalah sebaik-baik yang kuketahui, kemudian kusuruh dia berbuat adil, apakah hal itu membebaskan tanggungjawabku?” Para sahabatya menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Tidak, hingga aku melihat perbuatannya, apakah ia berbuat sesuai dengan perintahku atau tidak.” Selanjutnya ia pun berkata, “Pejabat mana pun yang ku angkat sedang ia berbuat aniaya kepada seseorang dan telah ku dengar kezalimannya namun aku tidak merubahnya, maka aku telah berbuat aniaya kepadanya.”
Ia pertama kali menolak setiap orang yang ingin mendapatkan jabatan. Dalam hal ini ia mengikuti jejak Rasulullah SAW. Karena berliau pernah bersabda, “Sesungguhnya kami, demi Allah, tidak menyerahkan urusan ini kepada seseorang yang memintanya atau menginginkannya.” Ini adalah langkah-langkah pertama Umar dalam memilih pembantu-pembantunya, yaitu menjauhkan setiap orang yang menginginkann jabatan dan berambisi kepadanya. Sebab, orang yang memiliki keinginan menjadi penguasa, akan memiliki keinginan untuk sewenang-wenang dan orang-orang yang minta supaya diangkat menjadi penguasa and gubernur, mereka itu tidak menghargai tanggung jawab pemerintahan, kalau tidak, niscaya mereka telah menghindar darinya dan menjauhinya.
Pada suatu hari Umar merahasiakan bahwa dirinya akan memilih seorang sahabatnya untuk menjadi gubernur di salah satu daerah. Seandainya sahabatnya itu bersabar beberapa saar, niscaya Umar telah memanggil dan memebrinya jabatan. Akan tetapi telah mendahului urusan yang belum diketahuinya dan pergi kepada Amirul Mu’minin untuk memintanya memberikan jabatan itu kepadanya. Umar tersenyum dan berpikir sejenak, kemudian berkata kepada sahabatnya, “Tadinya aku ingin memberimu jabatan itu, akan tetapi siapa yang meminta perkara ini tidak akan terpenuhi dan tidak dikabulkan.”
Setiap orang yang meminta kekuasaan memiliki penilaian yang buruk terhadap tanggungjawab dan akibatnya, karenanya Umar tidak menganggapnya pantas untuk melakukan itu. Inilah pertama yang pertama kali dimintanya daripara gubernurnya, “Kezuhudan dalam jabatan, dan penghindaran diri darinya, hingga apabila jabatan itu dating kepada mereka dengan terpaksa, mereka pun menerimanya dengan prihatin.”
Setelah itu, Umar memilih orang yang kuat dan jujur sebagai gubernur. Segera setelah memilih gubernurnya ia memegang tangannya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak mengangkatmu untuk menumpahkan darah kaum muslimin dan menyerang kehormatan mereka. Akan tetapi aku mengangkatmu untuk mendirikan shalat di antara mereka dan membagikan sedekah kepada mereka serta memutuskan hokum di antara mereka dengan adil.” Kemudian ia menyebutkan larangan-larangan yang harus dijauhi gubernur yang diangkatnya, “Jangan menaiki kuda yang istimewa, jangan memakai baju yang tipis, jangan memakan makanan yang enak-enak, jangan menutup pintumu bila orang-orang memerlukanmu.”
Mengapa Umar menghalangi para pegawainya dari kebaikan-kebaikan yang mubah itu; hewan yang istimewa, baju yang tipis, dan makan yang nyaman? Ia berbuat begitu supaya mereka selalu berada dalam tingkatan rakyat yang bekerja keras dan miskin, sehingga tetap dalam tempat mereka yang hak sebagai pelayan masyarakat, bukan sebagai pemimpin mereka. Ia tidak ingin gubernur-gubernurnya terpedaya atau hidup bersenang-senang, atau mendapat kemewahan dan keistimewaan atas nama pemerintahan.
Lihatlah bagaimana ia melukiskan gambaran pemimpin yang disukainya dan penguasa yang diutamakannya.
Pada suatu hari ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Tunjukkan kepadaku seorang laki-laki kepada siapa akan kuserahkan urusan yang penting bagiku.” Mereka berkata, “”Si Fulan.” Umar berkata, “Kami tidak memerlukannya.” Orang-orang itu berkata, “Siapakah yang engkau inginkan?” Umar menjawab, “Aku menginginkan seorang laki-laki yang apabila berada di antara suatu kaum dan tidak ada pemimpin bagi mereka, maka ia tampak seakan-akan pemimpin mereka. Dan apabila berada di antara mereka sedangkan ia adalah pemimpin mereka, maka tampak seakan-akan ia salah seorang dari mereka.”
Demikianlah sedikit gambaran dari sekian banyak mata kecemerlangan Amirul mu’minin Umar bin Khattab tentang bagaimana beliau memilih para pembantunya dalam menangani urusan kaum muslimin. Para pejabatnya tidak memiliki peluang untuk berbuat sewenang-wenang, semuanya di kontrol dari pusat pemerintahan yang beliau jalankan. Dan dalam menjalankan pemerintahannya, tak segan-segan Umar akan memecat pembantunya bila ia tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki rakyatnya. Mudah-mudahan kita semuanya dan para pemimpin kita dapat mengambil ibrah yang sangat berharga dengan keteladanan Umar bin Khattab selaku khalifah kaum muslimin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq RA., didikan dan binaan langsung tangan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish shawwab.

Maraji’: Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid
Selengkapnya...

Kisah Seorang Yang Masuk Surga Padahal Belum Shalat Satu Raka’atpun

Tatkala Rasulullah mengadakan pengepungan terhadap beberapa benteng Khaibar, datang seorang penggembala yang berwajah hitam bersama kambing-kambing gembalaannya. Dia bekerja dengan orang-orang Yahudi di benteng itu sebagai orang upahan. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, paparkan kepadaku apa itu Islam.” Lantas beliau memaparkannya secara panjang lebar, maka orang itu pun masuk Islam.
Tatkala sudah masuk Islam, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang upahan yang bekerja pada pemilik kambing-kambing ini sebagai amanat bagiku. Apa yang seharusnya aku perbuat.?”

Beliau menjawab, “Lemparkan pasir ke wajah-wajahnya, pasti ia akan kembali lagi ke tuannya.” Maka, si penggembala berkulit hitam ini mengambil segenggam kerikil, lalu melemparkannya ke arah wajah kambing-kambing tersebut seraya berkata, ‘pulanglah ke tuan kalian, demi Allah, aku tidak akan pernah sudi lagi menemani kalian.” Maka kambing-kambing itu pun pergi secara bergerombolan seakan ada orang yang menggiringnya hingga semuanya masuk ke benteng itu.
Setelah itu, si penggembala maju ke arah benteng itu untuk ikut serta berperang bersama kaum Muslimin namun dia terkena lemparan batu keras yang kemudian merenggut nyawanya, padahal dia belum sempat shalat untuk Allah walaupun satu raka’at.
Kemudian jenazahnya dibawa ke samping Rasulullah SAW., dalam kondisi tertutup dengan pakaian yang terlilit. Lalu beliau yang ketika itu bersama sebagian para shahabatnya menoleh ke arahnya kemudian berpaling. Mereka lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berpaling darinya.?”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya dia sekarang bersama isterinya, bidadari cantik yang sedang menggerak-gerakkan badannya untuk menghilangkan debu yang menempel.”

(SUMBER: Mi`ah Qishshah Wa Qishshah, karya Muhammad Amîn al-Jundy, Juz.II, h.19-20)
Selengkapnya...

Selasa, 26 April 2011

Belajar Sedekah dari Imam Ali Bin Abi Thalib

Fatimah binti Rasulullah SAW, isteri Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah didatangi seorang peminta sedekah. Ketika itu Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah mempunyai 50 dirham. Setelah menerima uang, pengemis itu pun balik. Di tengah jalan, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah bertanya berapa banyak yang diberi oleh Fatimah. Apabila diberitahu 25 dirham, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah menyuruh pengemis itu pergi sekali lagi ke rumahnya. Pengemis itu pun pergi dan Fatimah memberikan baki 25 dirham kepada pengemis itu. Selang beberapa hari, datang seorang hamba Allah berjumpa Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah dengan membawa seekor unta. Orang itu mengadu dalam kesusahan dan ingin menjualkan untanya. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah tanpa berlengah menyatakan kesanggupan untuk membelinya, meskipun ketika itu dia tidak memiliki uang. Dia berjanji akan membayar harga unta itu dalam masa beberapa hari. Dalam perjalanan pulang, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah berjumpa dengan seorang lelaki yang ingin membeli unta itu dengan harga yang lebih tinggi daripada harga asal. Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pun menjualkan unta itu kepada orang itu. Setelah mendapat uang, Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pun menjelaskan hutangnya kepada penjual unta. Beberapa hari kemudian, Rasulullah s.a.w. berjumpa Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah lalu bertanya "Ya Ali, tahukah kamu siapakah yang menjual dan membeli unta itu?" Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah mengatakan bahwa ia tidak tahu, Nabi menerangkan yang menjual itu ialah Jibril dan yang membelinya ialah Mikail.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (Al-Isra’:7)

Maha Suci Allah Yang telah menurunkan Islam melalui Rasul-Nya yang mulia. Islam menjadi bukan sekadar indah. Tapi, mudah dan penuh berkah. Seperti halnya hujan, siraman Islam mampu menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang pernah dianggap mati.

Sumber: www.dakwatuna.com
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Kenyamanan Tidur Sang Khalifah

Di Madinah yang tenang, hari itu. Siang berlalu setengah perjalanan. Serombongan orang yang Nampak asing berjalan memasuki kota suci Islam kedua itu. Ternyata itu rombongan Hurmuzan, Panglima dan Pangeran Persia yang telah ditaklukkan pasukan Muslim, yang ingin bertemu dengan Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khattab.
Dengan ditemani Anas bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan maemasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel dan sutera yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu, sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung pada sabuknya. Ia bertanya-tanya di mana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh dunia pasti tinggal di sebuah istana yang megah.

Sampai di Madinah, mereka langsung menuju ke tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga melihat Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan Masjid dengan menggunakan manteknya sebagai bantal.
Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukkan bahwa Umar adalah lelaki dengan pakaian seadanya, yang sedang tidur di Masjid itu.
Maka, dalam riwayat lain dikatakan, sambil berdecak heran Hurmuzan bergumam, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman, dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”
Setelah itu terjadi dialog panjang lebar. Juga kesepakatan-kesepakatan penting. Tetapi sepenggal kisah di atas, adalah kisah tentang kebesaran orang-orang terbaik sepanjang sejarah, seperti halnya Umar, yang mengajarkan arti sesungguhnya dari rasa aman dan tenang. Bisa kah dibayangkan, seorang pemimpin tertinggi, yang kekuasaannya bergema ke seantero bumi, dengan ringan dan tanpa rasa takut sedikit pun tidur-tiduran di emperan Masjid? (Sumber: Majalah Tarbawi)
Selengkapnya...