Selasa, 10 Mei 2011

Amanah Membayar Hutang

Di riwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam mengisahlan tentang seorang Bani Isra'il yang meminjam uang seribu dinar dari temannya. Temannya itu berkata, "Datangkanlah mereka yang menjadi saksi!"

Dia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi."

"Kalau begitu datangkanlah kepada kami seorang kafil (Penjamin)", kata temannya.

Ia berkata, "Cukuplah Allah sebagai penjaminku."

Ia berkata, "Engkau benar."

Kemudian dia diberikan pinjaman seribu dinar dengan batas waktu yang telah disepakati. Laki-laki dati lalu pergi (pulang ke seberang) melalui laut memenuhi keperluannya. Ketika waktu membayar hutangnya tiba, ia tidak mendapatkan kapal (yang bisa berlayar ke negerinya).

Akhirnya dia mengambil sebatang kayu dan melubangi. Ia lalu memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar dan surat darinya untuk pemiiknya, kemudian dia meratakannya lalu datang ke laut, kemudian berdo'a,

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa saya telah berhutang seribu dinar. Dan ketika dia meminta penjamin, saya jadikan Engkau sebagai penjaminnya dan dia rela dengan Engkau. Dan ketika dia meminta saksi, , saya jadikan Engkau sebagai saksinya dan dia rela dengan Engkau. Sungguh saya telah berusaha keras menunggu kapal untuk mengembalikan uang orang itu, tapi saya tidak mendapatkannya. Dan sungguh saya menitipkan uang ini kepada-Mu."

Kemudian ia lempar uangnya ke laut dan hanyut terbawa ombak. Ia lalu pulang, namun kemudian ia mendapatkan kapal yang menuju ke negerinya.

Sementara itu, orang yang meminjaminya selalu melihat (ke pantai), jangan-jangan ada kapal yang di titipi membawa uangnya. Tiba-tiba ia mendapatkan sebatang kayu yang terapung. Ia lalu mengambilnya untuk dijadikan kayu bakar oleh isterinya. Ketika dibelah, ia mendapatkan uang dan surat.

Selang beberapa lama, datanglah orang yang diberi hutang itu dengan membawa seribu dinar dan berkata,

"Demi Allah, saya terus berusaha mendapatkan kapal untuk datang kepadamu membawa uangmu. Tapi saya tidak mendapatkan kapal sebelum waktu saya sekarang bisa datang."

Orang yang memberi hutang bertanya, "Apakah kamu mengirim sesuatu kepadaku"

Ia berkata, "Saya tegas bahwa saya tidak mendapatkan kapal sebelum waktu kedatangan saya ini!"

Orang yang memberi hutang berkata, "Sesungguhnya Allah telah menyampaikan apa yang kamu kirim di dalam kayu. Maka pulanglah dengan tetap membawa seribu dinar dengan penuh keberuntungan." (60 Kisah Shahih dari Nabi dan Sahabat; Muhammad bin Hamid Abdul Wahab)

Subhanallah, Ketika kita berazam, menekadkan niat yang kuat untuk memenuhi janji atau beramal dengan amalan yang baik, dan kita pun berusaha untuk memenuhinya, maka sungguh Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan dan apa yang kita amalkan. Betapa beruntungya seseorang yang memilki tekad yang kuat untuk beramal, dengan memenuhi segala rintangan dalam mewujudkannya, maka Allah Yang Maha Kuasa memberikan jalan-jalanNya yang tak pernah kita sangka dan kita duga akan kita dapatkan.

Kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita: Ketika kita sudah berjanji dengan sepenuh hati, kemudian kita pun menunaikan janji kita, maka Allah akan memberikan jalan untuk mendapatkan cara menunaikan janji yang telah kita ucapkan. Niat dan kesungguhan amal serta pengharapan kepada Allah yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dan keberuntungan. Wallahu a'lam bish Showab
Selengkapnya...

Kamis, 05 Mei 2011

Hai Amru, kapan kalian memperbudak orang-orang sedangkan mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?

Di suatu ketika seorang pemuda Mesir datang kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khattab RA dan ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah orang yang berlindung kepadamu.” Kemudian Umar minta penjelasan kepadanya dan tahulah ia bahwa Muhammad bin Amru bin Ash telah memukulnya karena pemuda itu berlomba dengannya dan mendahuluinya. Maka Amirul Mu’minin pun mengirim utusan untuk memanggil Amru Ibnul Ash dan putranya Muhammad. Maka datanglah Amru ibnul Ash dengan memakai sarung dan selendang. Umar pun menoleh dan mencari putranya, Muhammad dan ternyata ia berada di belakang ayahnya.

Umar berkata, “Di mana orang Mesir itu?” Orang itu menjawab, “Ini, saya ada disini , wahai Amirul Mu’minin.” Umar berkata, “Ambillah cambuk ini dan pukullah putra orang-orang mulia itu.” Orang itu pun memukulnya hingga melukainya. Ia terus memukul. Umar berkata, “Pukullah putra orang-orang mulia itu.”

Kemudian Umar berkata lagi, “Pukulkanlah di kepala Amru, karena demi Allah ia tidak memukulmu kecuali dengan kelebihan kekuasaannya.” Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, keinginanku telah terpenuhi dan aku telah merasa puas karena orang yang memukulku telah ku pukul.” Umar berkata, “Demi Allah, seandainya engkau memukulnya, kami tidak menghalangimu untuk melakukannya sampai engkau sendiri yang meninggalkannya.”

Umar lantas menoleh kepada Amru ibnul Ash dan berkata, “Hai Amru, kapan kalian memperbudak orang-orang sedangkan mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?” Umar menoleh kepada orang Mesir itu dan berkata kepadanya, “Pergilah dengan baik dan jika engkau mengalami gangguan lagi, tulislah surat kepadaku.” (Sumber: Khulafaur Rasul; Khalid Muhammad Khalid)
Selengkapnya...

Selasa, 03 Mei 2011

Mensyukuri Nikmat Allah dan Mengakui Berasal DariNya

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Pertama, datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Rupa yang elok, kulit yang indah dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.'

Maka diusaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Unta atau sapi.'

Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan di do'akan: 'Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.'

Maka diusaplah kepalanya dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Sapi atau unta.'

Maka diberilah ia seekor sapi bunting dan di do'akan : 'Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya: 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab: 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.'

Maka diusaplah wajahnya dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya: 'Kambing.' Maka diberilah ia seekor kambing bunting.

Lalu, berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama mempunyai selembah unta, yang kedua mempunyai selembah sapi, dan yang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya, dan berkata:

'Aku orang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah dan kekayaan ini, aku minta kepada Anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.'

Tetapi di jawab: 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.'

Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya:

'Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula melarat, lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi Anda kekayaan?'

Dia malah menjawab: 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.'

Maka malaikat itu berkata kepadanya: 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.'

Lalu, malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada yang pernah menderita lepra, serta ditolaknya sebagaimana telah di tolak oleh yang pertama. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya: 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya:

'Aku orang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta kepada Anda seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.'

Orang itu menjawab: 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan supaya mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.'

Malaikat yang menyerupai orang buta itu pun berkata: 'Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.' " (HR. Bukhari-Muslim)
Selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Aku Ingin Menjaga Kesopananku Dengan-Nya

Al-Moushuli berkata : "Aku melihat seorang anak kecil yang belum sampai umur baligh di padang pasir, ia berjalan sendirian tanpa ada yang menemani sedangkan ia selalu menggerakkan kedua bibirnya. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya dan dia pun menjawab salamku. Aku bertanya kepadanya : 'Kamu mau kemana?'

Dia menjawab: 'Kepada Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung'

Moushuli : 'Mengapa kamu menggerak-gerakkan kedua bibirmu?'

Anak kecil : 'Karena aku sedang membaca kalam Allah'

Moushuli : 'Bukankah kamu belum dibebankan untuk beribadah (mukallaf)?'

Anak kecil : 'Aku telah melihat bahwa maut juga merenggut orang yang umurnya lebih kecil dariku'

Moushuli : 'Langkahmu pendek sedangkan perjalananmu sangat jauh'

Anak kecil : 'Aku hanya disuruh melangkah sedangkan sampai tidaknya aku ke tujuan adalah urusan-Nya'

Moushuli : 'Manakah perbekalan dan kendaraanmu?'

Anak kecil : 'Perbekalanku adalah keyakinanku sedangkan kendaraanku adalah dua kakiku'

Moushuli : 'Yang aku tanyakan adalah tentang makanan dan minumanmu'

Anak kecil : 'Wahai paman, apabila ada seorang makhluk yang mengundangmu untuk datang ke rumahnya, apakah pantas kamu membawa perbekalan ke rumahnya?'

Moushuli : 'Tidak!'

Anak kecil : 'Sesungguhnya Tuanku telah mengundangku untuk datang ke rumah-Nya (Baitullah) dan Dia mengumumkan kepada semua manusia untuk mengunjungi-Nya, maka kelemahan keyakinan mereka menjadikan mereka membawa perbekalan untuk memenuhi undangan Tuhan mereka, sedangkan aku mengingkari adab yang seperti itu, maka aku ingin menjaga kesopananku dengan-Nya. Apakah engkau melihat bahwa Dia menyia-nyiakanku?'

Moushuli: 'Tidak!'

Kemudian ia hilang dari pandanganku."

( Miata Qisshah wa Qisshah min Qishasis Shalihin wa Nawaidz Zahidin : Majdi Muhammad Al-Syahrawi)
Selengkapnya...

Minggu, 01 Mei 2011

Siapakah yang Bisa Menjaminmu Bisa Hidup Sehingga Engkau Bisa Melaksanakan Shalat?

Hisyam bin Hassan berkata: "Umar bin Abdul Aziz berkata kepada orang-orang di sekelilingnya:

'Aku akan naik ke atas mimbar untuk membagikan harta-harta yang kita terima dari kaum Muslimin kepada orang-orang yang berhak, setelah itu aku akan shalat.'

Lalu anaknya, Abdul Malik berkata: 'Siapakah yang bisa menjaminmu bisa hidup sehingga engkau bisa melaksanakan shalat?'

Dia bertanya: 'Jadi, kapankah kita akan shalat?'

Anaknya menjawab: 'Sekarang juga.'

Kemudian dia keluar dan menyeru manusia untuk shalat berjamaah. Setelah shalat, dia membagikan harta tersebut kepada orang-orang yang berhak menerimanya."

Dalam kisah yang lain diceritakan:

Ibnu Abu Aliyah berkata: "Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz duduk menghadapi urusan rakyatnya. Ketika tengah hari, dia merasa letih dan jemu. Lalu, dia berkata kepada orang-orang:

'Menetaplah kalian di tempat masing-masing sehingga aku datang lagi untuk menghadap kalian.'

Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat sebentar. Setelah itu anaknya yang bernama Abdul Malik datang. Lalu dia bertanya kepada orang-orang:

'Di manakah khalifah sekarang?'

Mereka menjawab: 'Dia telah masuk ke dalam rumahnya.'

Kemudian Abdul Malik meminta izin kepada para pengawal untuk menghadap. Lalu Umar mengizinkannya. Setelah masuk, Abdul Malik bertanya:

'Wahai Amirul Mukminin, apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam rumahmu?'

Dia menjawab: 'Aku ingin istirahat sebentar.'

Abdul Malik berkata: 'Apakah kamu merasa aman bahwa maut tidak akan datang kepadamu sedangkan rakyatmu menunggu di pinti masuk kekuasaanmu, sementara engkau menutup diri dari mereka?'

Lalu Umar berdiri dan segera menghadapi semua permasalahan rakyatnya."

(Miata Qishash wa Qishah min Qishashis Shalihin wa Nawaidz Zahidin, Majdi Muhammad al-Syahawi)
Selengkapnya...